Minggu, 15 November 2009

Rekonstruksi Posisi dan Visi Mahasiswa untuk tegaknya Syariah & Khilafah

ImageOleh : Adi Wijaya*

Bulu temmaruttunna Allah Taala kuonroi maccalinrung, Engkaga balinna Allah Taala na engka balikku; Mettekka tenribali, massadaka tenri sumpala

(Ibarat Gunung yang takkan runtuh kecuali seijin Allah SWT, Tuhan tempatku berlindung. Takkan ada yang dapat menandingiku, kecuali jika ada yang dapat menandingi Allah yang Maha Kuasa, petuahku tak terbantahkan, pendapatku dan tersanngah kebenarnnya.)

Pepatah bugis diatas setidaknya mampu menjadi pemantik semangat mahasiswa Islam, hanya kepada Allah SWT kita berlindung dan kebenaran Islam yang kita usung adalah kebenaran yang tak terbantahkan karena kebenarannya besandar dan bersumber dari Allah SWT., itulah mengapa opini perjuangan penegakan syariat Islam dalam naungan khilafah, bak perguliran bola salju yang terus membesar. Menarik siapa saja yang ada disekelilingnya untuk berkonstribusi aktif di dalamnya dan menggilas siapa saja yang mencoba merintanginya. Gaungnya pun terus membahana sampai ke pelosok negeri dan merambah seluruh strata sosial masyarakat, termasuk didalamnya komponen mahasiswa yang dianggap sebagai entitas yang konon memiliki kemampuan intelektual diatas rata-rata.

Mahasiswa dan pemuda sebagai salah satu bagian dari umat, yang memiliki daya nalar kritis ditopang naluri perubahan yang terus menggelora, seharusnya memposisikan dirinya sebagai lokomotif perubahan, yang akan membawa negeri ini menuju tatanan kehidupan yang lebih baik. Bahkan seharusnya mahasiswa harus mampu tampil di garda terdepan sebagai sang penyelamat dunia dari hegemoni ideologi kapitalisme yang saat ini berhasil memimpin sekaligus menghancurkan dunia.


Tidak sedikit catatan sejarah yang menunjukkan peran penting pemuda dan mahasiswa yang berhasil menjadi pemantik perubahan ditengah-tengah masyarakat. Sosok tegar pemuda Nabi Ibrahim Alaihis Salam yang terus melancarkan serangan-serangan intelektual kepada kaumnya, bahkan ayahnya sendiri agar mereka tidak menyembah patung-patung buatan manusia yang sedikit pun tidak mampu mendatangkan manfaat dan mudharat kepada mereka. Kegigihan Nabi Ibrahim Alaihis Salam akhirnya membawa angin segar ditengah masyarakat. Perubahan sejati yang begitu berarti disaat ia mampu membebaskan kaumnya dari penyembahan berhala menuju penyembahan dan ketaatan mutlak kepada Allah SWT.

Ada lagi kisah ashabul kahfi, yang terdiri dari tujuh pemuda yang ditidurkan oleh Allah SWT selama 300 tahun. Mereka adalah pemuda yang tetap berpegang teguh pada aqidah yang benar dan menolak menyembah nenek moyangnya.

Dijaman Rasulullah SAW banyak sekali bertebaran sosok pemuda intelek dengan gerak yang revolusioner, setia menjadi pendamping Rasulullah dalam perjuangan menegakkan agama Allah dan menghinakan kekufuran. Sebut saja sosok pemuda Arab nan tampan, Mus’ab bin Umair yang diutus oleh Rasul ke Madinah untuk melebarkan sayap dakwah. Pemuda Mus’ab, mengukir prestasi yang gemilang ketika membawa Islam ke Madinah, hingga tak ada satupun rumah yang tidak dimasuki oleh Islam. Kondisi inilah yang menjadi awal lahirnya negara Islam pertama di Madinah.

Sejarah diatas seharusnya mampu menjadi inspirasi dan penggelora semangat dikalangan pemuda dan mahasiswa diabad milenium ini. Rahasia utama sekaligus menjadi motor penggerak yang membuat Nabi Ibrahim Alaihis Salam, Ashabul kahfi, dan Mus’ab bin Umair mampu melakukan perubahan sosial di tengah masyarakat adalah kristalisasi ideologi yang mengakar kuat dalam diri mereka. Ideologi yang telah terkristal dalam sanubari Mus’ab bin Umair yang mampu mengerakkannya melakukan perubahan masyarakat yang sangat gemilang di Madinah, sama dengan ideologi yang bersemayam dihati para pemuda dan mahasiswa pejuang Islam ideologis saat ini. Artinya bukan hal yang mustahil mahasiswa saat ini kembali mengukir prestasi layaknya Nabi Ibrahim Alaihis Salam, Ashabul kahfi, dan Mus’ab. Karena memiliki modal yang sama yaitu kritalisasi ideologi. Ideologi yang mampu mengantarkan kita pada penghambaan kepada Allah SWT.

Namun pergerakan mahasiswa Islam bukanlah pergerakan yang hanya bermodal semangat tanpa visi dan misi perjuangan yang jernih. Mahasiwa adalah dokter umat, bertugas mengobati umat yang saat ini sementara menderita penyakit akut diseluruh aspek kehidupannya. Laksana seorang dokter, sebelum meberikan resep obat dan melakukan terapi, hal pertama yang harus dilakukan adalah mendiagnosis penyakit apa sebenarnya yang menjangkiti sang pasien.

Sebelum bergerak lebih jauh, mahasiswa sebagai agent of change terlebih dahulu harus menganalisis permasalahan faktual yang terjadi ditengah-tengah masyarakat. Teka teki pertama yang harus dijawab adalah apakah problem yang terjadi ditengah masyarakat adalah permasalah sosial ataukah permasalahan individu? Pertanyaan ini perlu untuk dijawab dengan analisis yang cerdas dan cermat. Karena jawaban ini akan menentukan solusi apa yang akan diberikan untuk mengeluarkan masyarakat dari keterpurukan dan kesempitan hidup.

Sangat memiriskan hati disaat melihat negeri Indonesia nan elok permai ini, negeri yang dijuluki sebagai zamrud khatulistiwa, dan berpenduduk muslim terbesar di dunia, ternyata masih dikungkung dengan sejuta masalah dan penderitaan yang belum juga kunjung selesai.

Tengok saja bagaimana kasus aborsi. Pada tahun 2008 Voice of Human Rigths melansir aborsi di Indoensia menembus angka 2,5 juta kasus. Jika dirata-rata maka dalam waktu sejam ada 288 wanita yang menggugurkan kandungannya. Dan yang lebih mencengangkan lagi ternyata 700 ribu kasus diantaranya dilakukan oleh remaja dibawah usia 20 tahun.

Diperparah dengan kampanye pergaulan bebas yang dilakukan dengan sangat masiv oleh para pengusung liberalisme dan antek-anteknya dengan modus operandi yang begitu beragam. Pergaulan bebas dikampayekan dalam film remaja dan berbagai sinetron. Seperti kisah prostitusi terselubung yang dilakukan oleh pelajar dalam film “Virgin” atau “Buruan Cium Gue” yang mengajak remaja dan kalangan mahasiswa untuk melakukan seks bebas. Anehnya virus-virus penghancur akidah dan akhlak umat yang bermetamorfosis dalam bentuk film ini, justru mendapatkan legitimasi dari pemerintah.

Setali tiga uang dengan bidang pendidikan. sektor dimana kalangan mahasiswa banyak bergelut. Pendidikan yang menjadi salah satu penentu kegemilangan masa depan bangsa, kondisinya sangat menyedihkan. Menurut hasil survey UNDP yang dikeluarkan pada tanggal 18 Desember 2008, kualitas Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia ternyata hanya menduduki peringkat 109 dari 179 negara di dunia. Sangat berbeda dengan kondisi umat Islam pada masa kekhilafahan yang mampu menjadi kiblat perkembangan pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi dunia.

Diperparah dengan ancaman komersialisasi pendidikan, yang telah menjadi kenyataan ketika perguraun tinggi berubah menjadi PT BHMN (Perguruan Tinggi Badan Hukum Milik Negara) yang kemudian diperkuat dengan UU BHP. Memang semuanya dikemas sedemikian apik sehingga terlihat bagus seperti alasan meningkatkan akuntabilitas, transparansi, dan jaminan mutu. Namun kenyataan tak seindah janji. Semua janji itu hanya tinggal janji yang tersisa adalah usaha untuk mengkomersialkan pendidikan. Cirinya adalah peran negara diminimalkan dan pendidikan dikembalikan kepada rakyat. Ujung-ujungnya yang muncul adalah masalah pendanaan. Perguruan tinggi harus bantingtulang mencari dana untuk terselenggaranya proses pendidikan. Mulai dengan membuka bisnis yang akhirnya menciptakan lembaga pendidikan yang profit oriented. sampai dengan cara yang paling mudah meriah (dan inilah yang banyak dilakukan sekarang) menaikkan biaya pendidikan. Walhasil pendidikan menjadi mahal.

Dari fakta diatas, dapat menjadi bahan acuan untuk menganalisis problematika apa sebenarnya yang muncul. Problem individu ataukah problem sosial? Jika kuantitasnya kecil dan sebarannya terbatas hanya pada sebagian kecil masyarakat saja, maka ini merupakan indikasi kuat bahwa permasalahan ini adalah permasalahan individu yang solusinya cukup dengan solusi individual yang bersifat reformatif.

Namun ketika fenomena itu memiliki kuantitas yang besar, penyebarannya meluas hampir diseluruh sektor kehidupan masyarakat, maka problem sebenarnya yang timbul adalah problem sosial yang membutuhkan solusi yang sifatnya sistemik dan fundamental.

Nah, jika melihat fakta disekitar kita, krisis dan keterpurukan yang terjadi hampir merambah seluruh aspek kehidupan. Maka wajar jika sebagian kalangan mengistilahkan krisis yang terjadi di Indonesia adalah “krisis multidimensional”. Mulai dari pemerintahan yang kental dengan budaya korupsi dan mental yang oportunistik, tatanan ekonomi yang dijalankan dengan manajeman kapitalistik, pendidikan yang telah terwanai dengan corak yang materialistik, sampai budaya hidup yang hedonistik dan permisif, merupakan fakta yang akan menggiring analisis kita pada muara kesimpulan, bahwa problematika yang menjangkiti negeri ini adalah problem sosial yang membutuhkan solusi sistemik. [Source]

0 komentar:

Posting Komentar

 

NO COPYRIGHT © IN ISLAM 2009 - BADAN KOORDINASI LEMBAGA DAKWAH KAMPUS KOTA BALIKPAPAN MADINATUL IMAN - KALTIM