Minggu, 15 November 2009

Dekontruksi Peran dan Visi Mahasiswa

Oleh : Pariadi Hartono
Perwakilan Mahasiswa Kalimantan
Disampaikan Pada Acara Kongres Mahasiswa Islam Indonesia
Di Basket Hall Senayan Jakarta, Minggu : 18 Oktober 2009

Dalam sejarah perjalanannya, bangsa ini telah mengalami kondisi beragam dengan diterapkannya beragam sistem pemerintahan. Berakhirnya penjajahan selama 350 tahun oleh Belanda, dan 3,5 tahun oleh Jepang. Memberi pelajaran berharga akan sebuah kondisi sebagai bangsa terjajah. Proklamasi kemerdekaan Indonesia menandai babak baru, akan sebuah kondisi Negara yang diharapkan dapat menghantarkan bangsa ini menuju cita-cita kemerdekaan yakni terwujudnya masyarakat yang adil dan sejahtera.

Perjalanan Pemerintahan di negeri ini dapat diklasifikasikan dalam 3 orde :

  1. Orde lama

Orde ini dimulai sejak terpilihnya Soekarno dan M. Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden Pertama setelah proklamasi. Beragam pembenahan dan penyusunan konstitusi Negara di lakukan. Pada awalnya Kepiawian sosok Soekarno dan M. Hatta sebagai seorang negarawan memberi secercah harapan kepada rakyat Indonesia pasca era penjajahan fisik kolonial imprealis. Namun ternyata gaya pemerintahan orde lama yang cenderung berhaluan kiri menyebabkan eksistensi Komunis-sosialis yang terlembaga dalam Partai Komunis Indonesia (PKI) mendominasi ranah politik saat itu. Karena itu pula umat Islam mencermati akan perlunya sebuah wadah perjuangan bersama sehingga terbentuklah beberapa ormas islam saat itu, seperti Muhammadiyah, NU, Sarekat Islam, Sarekat Dagang Islam, PII, dll. Kemudian juga mereka Menghimpunkan diri dalam sebuah partai politik bernama Masyumi. Partai ini berusaha memperjuangkan upaya pengelolaan Negara dengan menjadikan aturan Islam sebagai pijakan.

Dikalangan pemuda dan mahasiswa juga muncul gerakan kontra kebijakan orde lama dengan tuntutan TriTura yaang mereka suarakan, yakni Turunkan Harga, bubarkan PKI & cabinet yang bersih. Gerakan politik mahasiswa pada masa itu sebut saja HMI, PII, GPI dan beberapa gerakan mahasiswa lainnya yang bergabung dalam KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) berhasil turut berkontribusi dalam menjatuhkan rezim orde lama. Namun sayang perubahan yang dilakukan tersebut didesain sekedar mengganti rezim semata, tatkala aktivis mahasiswa itu diberi posisi di pemerintahan, idelalisme mereka luntur, dan peran mereka tak lebih ubahnya serupa intelektual penjilat, yang justru menjadi garda terdepan penjaga eksistensi penguasa (menjadi stempel penguasa). Mereka melontorkan argumentasi-argumentasi yang seolah ilmiah untuk membenarkan tindakan dzalim yang dilakukan penguasa. Idealisme yang mereka pupuk selama di bangku kuliah dalam sekejap dikalahkan oleh, harta dan jabatan.

Namun tentunya tidak semuanya, karena Idealisme perlawanan yang dulunya redup pasca runtuhnya orde lama, perlahan mulai digulirkan kembali pada orde baru. Walau banyak aktivis mahasiswa yang ditangkap atau terbunuh, namun upaya regenerasi gerakan mahasiswa ideologis tetap terjadi di kampus.


  1. Orde Baru

Orde baru di mulai dengan naiknya Soeharto dari kalangan militer sebagai Presiden ke 2 RI. Pada masa ini, tidak sedikit Aktivis dan Politisi yang kritis terhadap penguasa ditangkap, dipenjara, bahkan dibunuh. Banyak posisi stategis di kuasai oleh keluarga Cendana dan kroninya, KKN merajalela oleh Soeharto & Kroninya. Bahkan atas dasar Dwi Fungsi ABRI, banyak perwira militer yang dekat dengan penguasa menduduki posisi Gubernur, Bupati, Direktur Perusahaan Negara, dll. Selain itu, sebagai upaya “memaksa” warga Negara menjadikan pancasila (yang sekuler) sebagai satu-satunya ideology, Soeharto mengencarkan penataran P4. padahal karena-nya Islam sebgai sebuah Ideologi kehidupan yang diwajibkan atas segap kaum muslim tidak dapat dijadikan sempurna penerapannya. Pemerintah orde baru juga menorehkan dosa pada rakyat bangsa ini karena menjeratkan Negara pada hutang dengan IMF yang mencapai 14 juta dolar AS. Bahkan para Mafia Barkley yang bertugas menjajah Indonesia secara ekonomi disupport penuh oleh rezim ini baik sokongan dana, studi, termasuk menempatkan mereka pada posisi strategis.

Pada era orde baru ini juga digelontorkan kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK/BKK) yang menyebabkan suara-suara kritis mahasiswa disumbat secara sistematis, hal ini menyebabkan aktivitas mahasiswa yang pada orde lama banyak melakukan aktivitas politik, hanya menyibukkan diri dengan aktivitas akademik dan kegiatan social, seni dan olah raga.

Belum lagi Kenaikan BBM, Pengangguran, KKN, termasuk beragam kejahatan yang dilakukan militer terhadap umat Islam, seperti peristiwa Tanjung Priok dan peristiwa haur kuning majalengka turut menjadikan rakyat menderita. Ending dari beragam kesulitan hidup masa orde baru terjadi di penghujung tahun 1997. Dimana harga barang melonjak naik akibat tingginya inflasi, PHK bersar-besaran terjadi, Banyak perusahan gulung tikar, BUMN dilego, Subsidi dikurangi bahkan ingin dicabut, pungutan illegal di banyak instansi public marak terjadi.

Beberapa tokoh nasional dan gerakan kaum intelektual terus berupaya melakukan perlawanan. Isu Reformasi pun digulirkan, diopinikan di kampus-kampus, lewat televisi dan di banyak kesempatan. Dalam waktu yang singkat isu tersebut mampu membangkitkan keberanian rakyat untuk bersuara “T.I.D.A.K” pada orde baru. Ribuan Mahasiswa turun ke jalan membeberkan borok-borok orde baru, menggelorakan semangat melakukan perubahan dengan menuntut lengsernya Soeharto. Peristiwa Semanggi menjadi bukti sejarah tumpahnya darah mahasiswa untuk menurunkan rezim Orde Baru. Serangan massif dari tokoh Reformasi yang dimotori Amien Rais, Cs dengan Support Gerakan Mahasiswa menjadikan rezim Orde baru semakin terpojok, apalagi geliat perlawan juga diserukan oleh para anggota dewan yang waktu itu adalah “penghamba setia” rezim orba. Hal tersebut mendorong Soeharto untuk menyatakan kekalahannya dengan menyatakan mengundurkan diri sebagai Presiden .

  1. Orde Reformasi

Hal ini ditandai dengan lengsernya Soeharto sebagai PresidenRI, dan digantikan oleh wakilnya yang merupakan anak emas dan hasil didikan orde Baru, yakni B.J. Habibie. Pada Pemilu yang diadakan terpilih Gusdur sebagai hasil Poros Tengah dari beberapa komponen umat Islam, Kemudian kepemimpinan Gusdur digantikan Megawati Soekarno Putri, Pada Pemilu 2004 lewat Pemilu yang diklaim dilakukan secara langsung terpilih Sosilo Bambang Yudhoyuno (SBY) sebagai presiden RI ke – 6.Dan untuk kedua kalinya pada Pemilu 2009 kemaren SBY kembali terpilih sebagai Presiden, mengungguli Jusuf Kalla dan Megawati. Pada orde Reformasi kebijakan yang tidak berpihak rakyat semakin terang-terangan dilakukan penguasa. Seperti Penjualan PT. Telkom ke Singapura, PT. ANTAM. PT. HM.Sampoerna, dll. Lewat UU yang merupakan pesanan dari para kreditor internasiolnal dan LSM komprador. Selain itu Blok Cepu, Penjualan Gas Tangguh ke China, Korupsi oleh beberapa pejabat Negara, termasuk swastanisasi asset public semakin gencar dilakukan. Pada orde ini pula disahkan UU BHP, UU SDA, UU Penanaman Modal, UU Otonomi Daerah, UU Minerba, UU KDRT, UU Pornografi dan Pornoaksi, dan UU ketenagalistrikan yang semuanya dijiwai oleh pandangan dasar kapitalisme yang beraqidah sekulerisme.

Hal lainnya pada orde reformasi hutang luar negeri mencapai 1200 triliun dollar AS. BBM dinaikkan mencapai 125 % (tahun 2005), Indeks Prestasi Korupsi yang rendah, menurut PERC Indonesia menempati peringkat ke 13 dari 13 negara yang diteliti. Tahun 2003 Indonesia menempati posisi pertama tingginya Pornografi.

Pada masa Reformasi ini juga upaya liberalisasi semakin gencar dilakukan oleh lembaga-lemba internasional seperti IMF, UNDP, Bank Dunia, dan beberapa LSM Komprador yang sengaja dibiayai dan disetting untuk melakukan penjajahan gaya baru di Negeri ini. Sebut saja misalnya liberalisasi dalam bidang politik, seperti UU Otonomi Daerah yang menyebabkan munculnya raja-raja di daerah, Liberalisasi Pendidikan, dengan UU BHP yang menjadikan pendidikan dikelola dengan mekanisme perusahaan yang berorientasi pada kapitalisasi. Liberalisasi agama, dimana upaya dekontruski pemahaman dan pemikiran islami termasuk upaya menfsirkan ulang Al-Qur’an dilakukan LSM Komprador seperti JIL. Liberalisasi Ekonomi, dengan peneritan UU No. 11 tahun 2001 yang menjadikan asset srategis dapat dikuasai Swasta, contoh nyata : PT. Garuda Indonesia, PT. Telkom, PT.Antam, dll.

Beragam kebijakan yang tidak menunjukkan keberpihakan terhadap rakyat tersebut sangat jelas terpampang di depan mata oleh mereka-mereka intelektual yang sadar akan keburukan kapitalisme dengan aqidah sekulerismenya. begitu pula seharusnya dalam pandangan pemuda & gerakan mahasiswa dewasa ini, permasalahan ini tentunya harus menjadi permasalahan besar yang harus disikapi secara cerdas & ideologis. Namun ironisnya sampai dengan saat ini mahasiswa & gerakannya masih belum mampu muncul kepermukaan dengan visi ideologis perubahan yang fundamental. kebobrokan sistem kapitalisme yang sering mereka kritisi belum mampu tergantikan karena memang sudut pandangnya adalah dari sistem kapitalisme itu juga. []

Read rest of entry

Format Ideal Gerakan Mahasiswa Menuju Indonesia Jaya Dengan Khilafah

Oleh : Erwin Perman

Khilafah! Khilafah! Khilafah!

“Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus”, pada hari ini 18 Desember 2009 menghimpun kita semua, mahasiswa Islam dari seluruh pelosok negeri, berkongres di Hall Basket Senayan Jakarta ini. Dengan kongres ini, maka kita pertama kali melihat berkumpulnya dalam jumlah besar utusan-utusan mahasiswa dari hampir seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Belum pernah dalam sejarah, mahasiwa Indonesia berkumpul untuk menyatukan visi intelektual dalam jumlah yang demikian besar seperti yang sekarang dilakukan. Hall Basket Senayan Jakarta, akan menjadi saksi akan hari yang besar ini! Utusan-utusan dari berbagai perguruan tinggi Sumatera, dari berbagai perguruan tinggi Kalimantan, dari berbagai perguruan tinggi Sulawesi, dari Ambon, dari bumi Papua, dari Jawa, dari Madura dan Bali --semuanya berjabat tangan menyatukan visi satu sama lain. Semua yang datang ketempat ini melihat cahaya zaman yang gelap, menjadi saksi atas negeri yang karut marut, sadar akan nasib negeri yang sedang dijajah disegala bidang kehidupan. Di kongres inilah harapan akan solusi akan tertumpahkan.

Saudara! Kongres mahasiswa Islam Indonesia ini akan menjadi suatu permulaan masa yang baru dalam sejarah pergerakan mahasiwa Indonesia. Yaitu, masa dimana mahasiswa menjadikan intelektual berbasis ideologi Islam sebagai landasan geraknya. Masa dimana pragmatisme gerakan ditinggalkan; masa dimana opportunisme gerakan disingkirkan; masa dimana perasaan bangga dan hero atas diri sendiri dipandang hina dina; masa dimana aksi kekerasan dipandang jahil; masa dimana sikap masa bodoh dengan kondisi yang rusak dipandang sikap yang zalim; masa dimana tolok ukur keberhasilan keduniawian dipandang rendah. Akan tetapi masa ini adalah masa dimana gerakan mahasiwa hanya menjadikan ideologi Islam sebagai perkara hidup dan mati!

Sikap gerakan yang seperti ini adalah sesuai dengan tuntutan zaman, sesuai dengan renungan fikiran yang jernih. Sekarang sudah lewat temponya gerakan mahasiswa dijadikan sebagai karir untuk berpolitik, sudah lewat temponya gerakan mahasiwa dijadikan kendaraan untuk memburu rente, sudah pula lewat zamannya gerakan mahasiswa itu hero-heroan, gagah-gagahan agar dipandang pahlawan tapi sesungguhnya untuk mencari jabatan. Saat ini adalah saat dimana gerakan mahasiswa membuang jauh-jauh demokrasi, kepitalisme, meninggalkan sosialisme-komunisme. Sekarang sudah datang temponya untuk berjuang dengan sebenar-benar berjuang, menutup sejarah gerakan yang buram, menatap masa depan Indonesia Jaya dengan Khilafah!

Khilafah! Khilafah! Khilafah!

Gerakan ini pada hekakatnya adalah program penyelamatan umat manusia dari jurang kehancuran akibat ringkihnya sistem buatan manusia, yakni kapitalisme-demokrasi, yang membuat keadaan dunia saat ini berada dalam kondisi kebimbangan, kecemasan dan ketakutan. Tanda-tanda kehancuran dunia semakin nyata baik di darat, laut dan udara, misalnya dengan semakin turunnya kualitas lingkungan, terkikisnya lapisan ozon, meningkatnya suhu bumi, semakin tingginya permukaan air laut, semakin tercemarnya udara dan air, semakin liar dan tidak beradabnya perilaku manusia, semakin seringnya terjadi bencana alam dan peristiwa-peristiwa menakutkan lainnya. Jika keadaan seperti ini dibiarkan terus menerus maka tidak diragukan lagi dunia sedang menuju jurang kehancuran global.

Maka keadaan dunia yang sedang porak-poranda ini perlu segera ditata kembali menjadi dunia yang harmonis penuh dengan rahmat. Sistem hidup yang selama ini berkembang baik di Timur yang beraliran Sosialisme-Marxisme ataupun di Barat yang kapitalisme-demokrasi telah mengalami kegagalan demi kegagalan yang telah mengantarkan dunia seperti keadaannya ini. Dunia baru sangat memerlukan sistem hidup baru. Sistem yang menutup celah eksploitasi manusia atas manusia. Sistem yang berasal dari Illahi Robbi, diturunkan sebagai rahmat bagi dunia. Sistem yang akan mengantarkan dunia menuju era baru, era yang penuh dengan keadilan, kedamaian, dan kemakmuran yang menjadi cita-cita umat manusia. Sistem itu adalah khilafah!

Khilafah! Khilafah! Khilafah!

Saudara! saudara mesti faham bahwa pergerakan kita mahasiswa Islam menegakkan Khilafah berbeda dengan segala bentuk pergerakan atau bentuk revolusi manapun, baik dibarat maupun ditimur.

Pergerakan mahasiswa Islam bukan sebatas perjuangan kelas, bukan perjuangan kelompok proletar melawan kelompok borjuis, bukan perjuangan para revolusioner yang mendambakan kekuasaan atas nama kaum yang tertindas, bukan perjuangan para buruh yang menginginkan kehidupan sama rata sama rasa ataupun bukan perjuangan para pejuang suatu isme yang akan menggantikan dengan isme lainnya. Pergerakan mahasiswa Islam bukan perjuangan revolusioner radikal yang memiliki cita-cita pendek dan dangkal yang akan menggantikan sistem yang satu dengan sistem buatan manusia lainnya. Bukan pula perjuangan yang hanya menggantikan penguasa tiran dengan penguasa tiran lainnya. Akan tetapi pergerakan mahasiswa Islam adalah misi pembebasan umat manusia! Gerakan agung yang menyandarkan keagungannya pada cita-cita keagungan ajaran Islam yang tinggi lagi mulia, membebaskan manusia dari penyembahan kepada manusia menuju penyembahan kepada Allah, Tuhannya manusia. Membebaskan manusia dari sistem buatan manusia menuju sistem buatan Allah, Tuhan semesta raya.

Karenanya saudara! Pergerakan kita bukanlah pergerakan yang kecil-kecil. Bukan pergerakan yang sebatas menginginkan tercukupinya makanan, minuman, pakaian, rumah dan perbaikan-perbaikan kecil lainnya. Pergerakan kita adalah suatu transformasi yang ingin menggugurkan Ideologi buatan manusia demokrasi-kapitalis untuk diganti dengan ideologi buatan Tuhan, yaitu Islam. Pergerakan kita adalah sebuah pergerakan yang mencabut sampai keakar-akarnya seluruh sistem dalam tatanan masyarakat dan mengganti dengan tatanan baru yang Islam.[]
Read rest of entry

Susunan Kabinet SBY (2009-2014) : Kabinet Baru, Kabinet Pesanan AS-Pemerintah Baru, "Bencana Baru"

[sby-9.jpg]

Bulan lalu di Istana Negara, di dampingi Wapres Boediono, dan kedua Juru Bicara Kepresidenan, Presiden SBY mengumumkan susunan Kabinet Indonesia Bersatu jilid kedua. Berikut susunannya :

MENTERI KOORDINATOR

  1. Menko Politik Hukum dan Keamanan : Marsekal (Purn) Djoko Suyanto
  2. Menko Perekonomian : Hatta Rajasa
  3. Menko Kesra : R Agung Laksono
  4. Sekretaris Negara : Sudi Silalahi

MENTERI DEPARTEMEN

  1. Menteri Dalam Negeri : Gamawan Fauzi
  2. Menteri Luar Negeri : Marty Natalegawa
  3. Menteri Pertahanan : Purnomo Yusgiantoro
  4. Menteri Hukum dan HAM : Patrialis Akbar
  5. Menteri Keuangan : Sri Mulyani
  6. Menteri ESDM: Darwin Saleh
  7. Menteri Perindustrian : MS Hidayat
  8. Menteri Perdagangan : Mari E. Pangestu
  9. Menteri Pertanian : Suswono
  10. Menteri Kehutanan : Zulkifli Hasan
  11. Menteri Perhubungan : Freddy Numberi
  12. Menteri Kelautan dan Perikanan : Fadel Muhammad
  13. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi : Muhaimin Iskandar
  14. Menteri Pekerjaan Umum : Djoko Kirmanto
  15. Menteri Kesehatan : Endang Rahayu Sedyaningsih
  16. Menteri Pendidikan Nasional : Mohammad Nuh
  17. Menteri Sosial : Salim Segaf Al Jufri
  18. Menteri Agama : Suryadharma Ali
  19. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata : Jero Wacik
  20. Menteri Komunikasi dan Informatika : Tifatul Sembiring

MENTERI NEGARA

  1. Menteri Riset dan Teknologi : Suharna Suryapranata
  2. Menteri Koperasi dan UKM : Syarifudin Hasan
  3. Menteri Lingkungan Hidup : Gusti Muhammad Hatta
  4. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak: Linda Amalia Sari Gumelar
  5. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara : E.E Mangindaan
  6. Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal : Ahmad Helmy Faishal Zaini
  7. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas : Armida Alisjahbana
  8. Menteri BUMN : Mustafa Abubakar
  9. Menteri Pemuda dan Olahraga : Andi Alfian Mallarangeng
  10. Menteri Perumahan Rakyat : Suharso Manoarfa

PEJABAT SETINGKAT MENTERI

  1. Kepala BIN: Jenderal (Purn) Sutanto
  2. Kepala BKPM: Gita Wirjawan
  3. Ketua Unit Kerja Presiden Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan: Kuntoro

Namun penetapan nama-nama tersebut, sesungguhnya bukanlah sim-salabim atau langsung muncul begitu saja. SBY dalam penyusunan menteri kabinet, didampingi oleh wapres Boediono dan Sudi Silalahi. Boediono yang merupakan orang neoliberal, yang ketika menjabat Gubernur BI telah mengucurkan dana Rp. 6,7 Triliun untuk Bank Century, tanpa sepengetahuan Presiden, yang diduga kuat untuk membiayai kegiatan partai politik tertentu (www.republika.co.id).

Sedangkan Sudi Silalahi yang pada tanggal 20 Januari 2005 (mengatasnamakan jabatan Seskab), telah mengirim surat kepada Menteri Luar Negeri untuk merespons dan menerima presentasi dari manajemen PT Sun Hoo Engineering tentang rencana pembangunan gedung KBRI di Seoul, Korea Selatan. Surat ini kemudian disusul dengan surat kedua pada tanggal 21 Februari 2005, dengan isi yang sama, namun diperkuat dengan permintaan untuk ‘menindaklanjuti’ yang diberi penekanan dengan huruf miring. Surat ini juga melampirkan 4 berkas proposal dan dua maket. Surat-surat ini kemudian bocor ke tangan wartawan, dan dimuat di berbagai surat kabar setahun kemudian. Banyak pihak, antara lain mantan presiden RI Abdurrahman Wahid, koordinator ICW Teten Masduki serta kalangan anggota DPR menganggap apa yang dilakukan Sudi ini di luar batas-batas kepatutan sebagai pejabat negara. Untuk meredam kasus ini, Sudi melaporkan anak buahnya, Aziz Ahmadi, sebagai orang yang dianggap telah memalsukan surat-surat tersebut. Dalam perkembangan selanjutnya, Aziz diberitakan pula telah mengaku menerima imbalan atas keluarnya surat tersebut. (www.wikipedia.org)

Bersama Boediono dan Sudi Silalahi, SBY juga didampingi oleh Rizal Malarangeng dalam penyusunan kabinet. Direktur Freedom Institute ini juga merupakan tokoh liberal.

Nama-nama menteri diatas khususnya dibidang ekonomi, diisi oleh “Trio Srikandi Kapitalis”. Yaitu Sri Mulyani yang merupakan orang dekat dari IMF, Armida Alisjahbana yang merupakan orang dekat dari Word Bank dan AusAID, Mari Elka Pangestu (wanita keturunan Tionghoa yang memiliki nama asli Hanzi) merupakan aktifis CSIS. Tidak menutup kemungkinan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan mereka kelak syarat dengan pesanan dari negara-negara Kapitalis. Seperti hutang kepada IMF yang mana Indonesia harus menarik subsidi barang kebutuhan pokok masyarakat baik itu BBM, listrik, telepon, dll. Meskipun akhirnya pemerintah mengeluarkan kebijakan BLT, namun hal ini tidak menjadikan kondisi normal, melainkan justru akan semakin mempersulit rakyat menengah kebawah. Untuk tahun 2009 ini saja, pemerintah Indonesia telah membayar hutang luar negeri sebesar Rp. 127,607 Triliun. Dimana pembayaran ini adalah pembayaran terbesar sejak tahun 2004. Namun kita jangan berbangga terlebih dahulu bahwa Indonesia bisa membayar hutang sebesar itu, karena dana yang dipergunakan untuk membayar hutang tersebut juga berasal dari dana hutang (Kompas, 9 Oktober 2009).

Selain itu masih adalagi nama menteri yang dekat dengan AS, yaitu Endang Rahayu Sedyaningsih. Wanita lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tahun 1979, dan memperoleh gelar master dan dokter dari Harvard School of Public Health, Boston, masing-masing tahun 1992 dan 1997 ini secara mendadak menggantikan calon sebelumnya yaitu Nila A Moeloek. Endang Rahayu Sedyaningsih ini tidak pernah muncul sejak proses wawancara dilakukan Presiden SBY dan Wakil Presiden Boediono di Puri Cikeas, Bogor. Ia juga tidak tampak hadir di RSPAD Gatot Subroto untuk melakukan pemeriksaan kesehatan yang disyaratkan dalam proses seleksi menteri tersebut (www.kompas.com). Ternyata Endang Rahayu Sedyaningsih ini merupakan orang terdekat dengan Namru-2 sebuah laboratorium peneliti milik angkatan laut AS. Endang Rahayu yang pernah membawa virus ke luar negeri ini secara jelas-jelas akan melanjutkan kerja samanya dengan Namru-2. Sebelumnya Siti Fadilah Supari mempermasalahkan kerja sama dengan Namru-2. Bahkan para peneliti di Namru-2 memiliki kekebalan hukum, yang ini sesungguhnya hanya bisa dimiliki oleh seorang Duta Besar saja.

Sementara itu, Tifatul Sembiring sengaja diposisikan sebagai Meneginfo. Presiden PKS ini memang bukan antek AS, Namun pemasangan Tifatul Sembiring di posisi tersebut, sesuai dalam salah satu tugasnya pada Badan Informasi Publik (www.depkominfo.go.id) dimaksudkan agar bisa menjelaskan (lebih tepatnya menenangkan) kepada rakyat tentang kebijakan-kebijakan AS di Indonesia. Seperti kebijakan menarik subsidi BBM, menguburkan berita tentang keikutsertaannya kapal Induk George Washington dan kapal perang Australia dalam acara Sail Bunaken 2009 yang kemudian mengambil kesempatan untuk dapat masuk dan mengamati dari dalam pertahanan Indonesia dan mengamati China lebih dekat karena AS sedang bersitegang dengan China yang mengembangkan senjata nuklir (secret operation-Metro TV 21 Oktober 2009). AS melalui mitranya Australia sudah jauh-jauh hari mendekati salah satu partai Islam terbesar di Indonesia ini. Yaitu dengan adanya pertemuan antara PKS dan ALP Partai Buruh Australia yang merupakan partai yang berkuasa di Australia pada tanggal 21 mei 2008. Bahkan dikatakan oleh perdana menteri Australia Kevin Rudd bahwa PKS dan ALP sudah dua tahun bekerjasama (www.pk-sejahtera.org).

Inilah yang dilakukan oleh AS dan negara-negara Kapitalis, dengan menggunakan politik belah bambu ala Rand Corporation. Dimana ummat Islam di Indonesia yang merupakan ummat Islam terbesar di dunia, sebelumnya dibagi menjadi 4 kelompok kecendrungan dan sikap politik mereka terhadap Barat dan nilai-nilai Demokrasi :

  • Pertama : Kelompok Fundamentalis
  • Menolak nilai-nilai demokrasi dan kebudayaan Barat kontemporer. Mereka menginginkan sebuah negara otoriter yang puritan yang akan dapat menerapkan Hukum Islam yang ekstrem dan moralitas. Mereka bersedia memakai penemuan dan teknologi modern untuk mencapai tujuan mereka.

  • Kedua : Kelompok Tradisionalis
  • Ingin suatu masyarakat yang konservatif. Mereka mencurigai modernitas, inovasi, dan perubahan.

  • Ketiga : Kelompok Modernis
  • Ingin Dunia Islam menjadi bagian modernitas global. Mereka ingin memodernkan dan mereformasi Islam dan menyesuaikannya dengan zaman.

  • Keempat : Kelompok Sekularis
  • Ingin Dunia Islam untuk dapat menerima pemisahan antara agama dan negara dengan cara seperti yang dilakukan negara-negara demokrasi industri Barat, dengan agama dibatasi pada lingkup pribadi.

Setelah mereka (ummat Islam) dibagi berdasarkan kecendrungan dan sikap politik mereka terhadap Barat dan nilai-nilai Demokrasi, kemudian mereka melakukan pecah belah, seperti :

  • Pertama, Support the modernists first (mendukung kelompok Modernis)
  • Kedua, Support the traditionalists against the fundamentalists: Mendukung kaum tradisionalis dalam menentang kaum fundamentalis.
  • Ketiga, Confront and oppose the fundamentalists: Mengkonfrontir dan menentang kaum fundamentalis.
  • Keempat, Secara selektif mendukung kaum sekuler.

AS dan negara-negara kapitalis lainnya, mengelompokkan Sri Mulyani, Boediono, dll kedalam kelompok sekuler yang harus di dukung penuh. Sedangkan kepada Tifatul Sembiring, mereka mengelompokkan kedalam kelompok modernis yang harus didekati dan diberi dukungan yang kemudian diharapkan bisa membantu dan mendukung usaha mereka.

Dalam 5 tahun kedepan, akan kita lihat kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat, yang sarat dengan kepentingan AS. [Oleh Raden Mas Bejo]

Read rest of entry

Soempah Pemoeda, Cikal Bakal Ashabiyah

PERTAMA. KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA, MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH INDONESIA.

KEDOEA, KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA.

KETIGA, KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA, MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA.

Kalimat tersebut merupakan hasil dari Kongres Pemuda yang diucapkan sebagai sumpah setia yang dilaksanakan pada hari Minggu, 28 Oktober 1928 bertempat di di Gedung Oost-Java Bioscoop (sekarang Gedung Keramat 106 Jakarta).

Kongres yang digagas oleh Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh indonesia. Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat. Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Lapangan Banteng. Dalam sambutannya, Soegondo berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Moehammad Jamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.

Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, sependapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.

Pada sesi berikutnya, Soenario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.

Kongres Pemuda II yang menghabiskan dana f250 atau setara gaji satu bulan pegawai Pemerintah Hindia-Belanda lulusan Stovia atau Sekolah Hakim pada waktu itu, dihadiri dari berbagai wakil organisasi pemuda yang ada pada waktu itu, seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, PPI, dll. Di antara mereka hadir pula beberapa orang pemuda Tionghoa sebagai pengamat, yaitu Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok dan Tjio Djien Kwie serta Kwee Thiam Hong sebagai seorang wakil dari Jong Sumatranen Bond.

Sumpah Pemuda Adalah Ikatan Ashobiyyah

Seperti kita ketahui bahwa manusia adalah makhluk sosial. Satu dengan yang lainnya saling membutuhkan. Agar tercipta kehidupan bersama yang harmonis, tidak memicu pertentangan dan permusuhan dibuatlah ikatan-ikatan, yang menjadi sebuah peraturan/konsensus yang harus ditaati oleh seluruh unsur masyarakat. Ikatan-ikatan tersebut bentuknya bermacam-macam, bisa berbentuk norma-norma, peraturan hukum, ideologi dan sejenisnya.

Salah satu dari berbagai macam ikatan itu adalah ikatan kesukuan. Menurut Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, ikatan kesukuan tumbuh di tengah-tengah masyarakat pada saat pemikiran manusia mulai sempit. Sebab munculnya ikatan kesukuan ini karena manusia itu, pada dasarnya memiliki naluri ingin mempertahankan diri (survive), lalu muncul pada dirinya keinginan untuk berkuasa. Keinginan ini muncul hanya pada individu yang rendah taraf pemikirannya (An-Nabhani, Nizhomul Islam). Untuk meluaskan pengaruh kekuasaannya itu, tidak jarang berhadapan dengan suku-suku lain, sehingga menimbulkan pertentangan-pertentangan lokal antar suku. Kepentingan dan pembelaan berdasarkan golongan, termasuk suku bangsa, di dalam istilah Islam dikenal dengan nama ashabiyah atau ta’ashub.

Jadi, ikatan kesukuan merupakan ikatan yang rusak. Tidak layak dijadikan pengikat antar manusia, karena memiliki beberapa aspek:

  • Ikatan ini berdasarkan pada suku/keturunan etnis tertentu, sehingga tidak dapat dijadikan pengikat dalam sebuah masyarakat yang penduduknya heterogen. Apalagi jika masyarakat itu berbentuk sebuah peradaban besar yang mencakup berbagai suku, bangsa, ras, asal geografis dan sebagainya.
  • Ikatan ini bersifat emosional, selalu didasarkan pada perasaan yang muncul secara spontan dari naluri mempertahankan diri.
  • Ikatan ini juga tidak manusiawi, karena menimbulkan pertentangan dan perselisihan antar sesama manusia, terutama dalam berebut kekuasaan.

Ikatan kesukuan hanya mengurung akal manusia dalam pemikiran yang picik dan sempit.

Ikatan inilah yang dipergunakan oleh Barat dalam memecah belah umat Islam dengan menanamkan tsaqafah ini kepada pemikiran-pemikiran kaum muslimin. Tsaqafah inilah yang dipergunakan Barat untuk menghacurkan Khilafah Islam pada tahun 1924M. Dan setelah menghancurkan Khilafah Islam, tsaqafah ini masih terus ditanamkan kepada kaum muslimin.

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Ad-Daulah Al-Islamiyah pada bab muqaddimah mengibaratkan Barat yang menanamkan tsaqafah ashabiyah yang telah dijadikan senjata untuk menghancurkan Khilafah Islam (ibu dari kaum muslimin) dan kemudian menanamkannya kepada kaum muslimin (anak cucu Khilafah Islam) dengan istilah : ”Sungguh aku telah membunuh ibu kalian yang memang patut untuk dibunuh lantaran perawatannya yang buruk terhadap kalian. Sekarang aku menjanjikan perawatan yang membuat kalian bisa merasakan kebahagiaan hidup dan kenikmatan yang nyata.” Namun sayangnya, anak cucu Khilafah (kaum muslimin) menerima uluran tangan si pembunuh, padahal senjata sang pembunuh yang terhunus masih berlumuran darah ibu mereka.

Kaum muslimin yang sudah dipecah belah oleh Barat, kemudian mengambil tsaqafah Barat dengan mengadakan kongres pemuda di Jakarta. Mereka tidak lagi bersatu dalam ukhuwah Islamiyah, namun mereka bersatu dalam ashabiyah nasionalisme. Mereka tidak lagi memikirkan saudara seimannya di wilayah lain, mereka hanya memikirkan nasib wilayahnya sendiri yaitu Indonesia.

Umat Islam lupa akan bahaya tsaqafah ini. Mereka memerangi penjajah, namun pada saat yang sama, mereka pun mengambil tsaqafah-nya. Padahal, tsaqafah itulah yang membuat mereka terjajah.

Ikatan Ukhuwah, ikatan yang shohih.

Islam tidak mengenal ikatan apapun, selain ikatan iman dan ukhuwah Islamiyah, untuk seluruh kaum Muslimin. Ikatan ini berarti hanya menjadikan akidah Islam, mabda (ideologi) Islam, sebagai satu-satunya pengikat antar kaum Muslimin. Ikatan-ikatan lainnya seperti ikatan kelompok, golongan, suku, keluarga, bangsa/nasionalisme, dan sejenisnya masuk dalam kategori ikatan-ikatan yang mempropagandakan syi’ar-syi’ar Jahiliyah.

Islam, muncul untuk merobohkan ikatan-ikatan semacam itu, membersihkannya, kemudian membangunnya dengan akidah Islam dan mabda (ideologi) Islam yang satu, pemimpin yang satu, negara yang satu, syariat (sistem hukum) yang satu.

Kecaman Islam terhadap para penganut paham sukuisme, fanatisme golongan dan sejenisnya amat keras, sampai-sampai Rasulullah saw juga bersabda:

“Bukan dari golongan kami orang-orang yang menyerukan ashabiyah, orang yang berperang karena ashabiyah, serta orang-orang yang mati karena membela ashabiyah.”
(HR. Abu Dawud)

Artinya, kaum Muslimin yang terlibat dalam fanatisme golongan/kesukuan (ashabiyah), dianggap ‘bukan dari golongan kami’, yaitu bukan termasuk kaum Muslimin. Seruannya, pembelaannya, bahkan pertarungannya membela golongan/kelompok/suku hanyalah perbuatan sia-sia dan hina!

Dalam hadits-hadits lain, kecaman Islam terhadap penganut ashabiyah lebih ’seram’, sehingga Rasulullah mencapnya seperti ‘bahan bakar api neraka’, ‘lebih rendah dari cacing tanah’, ‘lebih baik menggigit kemaluan bapaknya’. Semua itu menunjukkan perbuatan hina dan menjijikkan, dan jelas-jelas berdosa. Di depan Islam, derajat mereka lebih rendah dari binatang, malah lebih rendah dari cacing tanah!

Oleh Raden Mas Bejo [HalaqahOnline]


Read rest of entry

Dialogika BKLDK Balikpapan : "MATINYA SOEMPAH PEMOEDA"

[Pamflet_Matinya_Sumpah_Pemuda.jpg]
UNDANGAN BAGI
SELURUH MAHASISWA BALIKPAPAN
DAN MASYARAKAT UMUM

Acara Free..

Insyaallah, Ahad , 22 November 2009 , BKLDK Balikpapan mengadakan acara DIALOGIKA BKLDK dengan tema "MATINYA SUMPAH PEMUDA".

Dialogika bertempat di ruang serba guna kampus STIE Balikpapan (STIEPAN) - Kompleks perkampungan pelajar Gn. pasir.

Sebagai Pembicara :
- Drs. Takarianto (Dosen STT Migas Balikpapan)
- Agus Supriyanto (Koordinator BKLDK Balikpapan)
- Eko Purwanto (Alumni KMII 2009, Ketua LDK SKIMAPAN)

Dialogika diselenggarakan atas kerja sama BKLDK Balikpapan dan LDK SKIMAPAN (STIE Balikpapan)
Read rest of entry

Aksi Nasional Mahasiswa Banda Aceh Seruan Mahasiswa untuk Rezim Baru

ImageMahasiswa Banda Aceh pada 28 oktober 2009 tepatnya pukul 14.00 sampai dengan 15.30 WIB melaksanakan aksi konvoi kendaraan roda dua dalam sebuah Aksi Nasional Mahasiswa Seruan Mahasiswa Kepada Rezim Baru, serentak dilaksanakan di beberapa kota seluruh Indonesia. Aksi yang dimotori oleh Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus (BKLDK) diikuti oleh puluhan mahasiswa dan mahasiswi dari beberapa perguruan tinggi di Banda Aceh. Bermula dari kampus Universitas Syiah Kuala iringan kendaraan berjalan melalui jalur utama kota menuju Mesjid Raya Baiturrahman untuk melakukan orasi.

Sepanjang jalan peserta aksi juga melakukan orasi dan mengusung poster-poster menyeru rezim baru untuk meninggalkan neoliberalisme, tegakkan syariah dan khilafah. Yel-yel dari peserta aksi yang menyatakan “Demokrasi pasti mati, Neolib pasti mati, Khilafah pasti tegak kembali” juga tidak ketinggalan menambah heroik suasana di tengah sengatan matahari siang.

Pernyataan sikap aksi ini dibacakan secara resmi oleh Iwan Doumy sebagai ketua pelaksana di depan Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh yang pada intinya menawarkan kepada seluruh mahasiswa dan gerakannya untuk menjadikan ideologi Islam sebagai mainstream gerakan, sekaligus menjadikannya sebagai sistem yang ditawarkan dan disosialisasikan untuk mengelola negeri ini. Berkaitan dengan Sumpah Mahasiswa 18 Oktober 2009 yang dihasilkan dalam Kongres Mahasiswa Islam Indonesia (KMII) diikrarkan kembali oleh seluruh peserta aksi sebagai respon intelektual terhadap kerusakan yang dihasilkan oleh sistem sekuler-demokrasi yang mengatur negeri ini.





Read rest of entry

BKLDK Makassar serukan tegakkan syariah & khilafah

ImagePada hari Rabu, 28 Oktober 2009 Ratusan mahasiswa dari berbagai Universitas negeri dan swasta yang tergabung dalam Badan Koordinasi Lembaga Dakwah kampus (BKLDK) Daerah Makassar melakukan aksi damai. Mereka menyerukan kepada rezim pemerintahan baru untuk meninggalkan neoliberalisme serta menegakkan syariah dan khilafah. Aksi yang dimulai pukul 13.00 WITA, mengambil rute awal dari Masjid al Markaz Al islami menuju monumen Mandala dengan barisan yang tertib dan rapi, serta dikawal oleh beberapa aparat keamanan.

koordinator aksi, mengungkapkan bahwa sejak kemerdekaan sampai saat ini, Indonesia telah berganti-ganti rezim tetapi rakyat tetap berada dalam penderitaan. ada persoalan mendasar yang terjadi pada negeri ini sehingga problem rakyat semakin menggunung. Hal ini tidak cukup sekedar berganti rezim tetapi sistem rusak yang membawa penderitaan bagi rakyat ini pun harus pula diganti.
Disisi lain aksi ini juga merupakan rangkaian dari Kongres Mahasiswa Islam Indonesia (KMII) yang diselenggarakan di Jakarta (18/10),pekan lalu yang melahirkan Sumpah Mahasiswa.

Sumpah Mahasiswa pun kembali dibacakan dalam aksi tersebut. Berikut isi sumpah mahasiswa tersebut:

Sejak kemerdekaan hingga lebih dari enam dekade, sekulerisme mengatur Indonesia, terlepas dari siapa pun yang berkuasa. Hal yang sama juga terjadi di negeri-negeri muslim lainnya. Sistem sekuler telah menyebabkan rakyat terus menerus hidup dalam berbagai krisis yang tidak berkesudahan. Sampai saat ini fakta kemiskinan, kebodohan, kedzaliman, ketidakadilan, disintegrasi dan berbagai problem lain, termasuk penjajahan dalam segala bentuknya, senantiasa mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya. Sistem sekuler telah mengakibatkan potensi sumberdaya alam dan kekayaan mineral yang sangat melimpah tidak mampu membuat rakyat hidup dalam kebaikan. Justru sebaliknya, rakyat hidup dalam penderitaan. Semua potensi dan kekayaan alam yang dimiliki seolah tidak memberikan arti apa-apa buat hidup rakyat.

Oleh karena itu, setelah kami melihat, mencermati dan menganalisa fakta kerusakan yang ada serta merumuskan kondisi ideal, maka demi Allah, Zat yang jiwa kami berada dalam genggaman-Nya, kami mahasiswa Indonesia bersumpah :

  1. Dengan sepenuh jiwa, kami yakin bahwa sistem sekuler, baik berbentuk kapitalis-demokrasi maupun sosialis-komunis adalah sumber penderitaan rakyat dan sangat membahayakan eksistensi Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya.
  2. Dengan sepenuh jiwa, kami yakin bahwa kedaulatan sepenuhnya harus dikembalikan kepada Allah SWT – Sang Pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan - untuk menentukan masa depan Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya.
  3. Dengan sepenuh jiwa, kami akan terus berjuang tanpa lelah untuk tegaknya syari’ah Islam dalam naungan Negara Khilafah Islamiyah sebagai solusi tuntas problematika masyarakat Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya.
  4. Dengan sepenuh jiwa, kami menyatakan kepada semua pihak bahwa perjuangan yang kami lakukan adalah dengan seruan dan tantangan intelektual tanpa kekerasan.
  5. Dengan sepenuh jiwa, kami menyatakan bahwa perjuangan yang kami lakukan bukanlah sebatas tuntutan sejarah tetapi adalah konsekuensi iman yang mendalam kepada Allah SWT.

Sumpah Mahasiswa tersebut dianggap sebagai bentuk komitmen pemuda dan mahasiswa untuk berjuang keluar dari sistem sekuler menuju sistem Islam.

Di akhir aksi Adi wijaya selaku koordinator BKLDK Makassar membacakan pernyataan sikap.

Selain di Makassar Aksi ini juga berlangsung serentak di kota-kota besar di Indonesia, diantaranya Jakarta ,Surabaya Bogor, Bandung, Aceh,Samarinda, Kendari, Maluku Utara, dsb. (lipt : Nayla Syamil dan Nasrul Fikry )





Read rest of entry
 

NO COPYRIGHT © IN ISLAM 2009 - BADAN KOORDINASI LEMBAGA DAKWAH KAMPUS KOTA BALIKPAPAN MADINATUL IMAN - KALTIM