Minggu, 15 November 2009

Soempah Pemoeda, Cikal Bakal Ashabiyah

PERTAMA. KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA, MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH INDONESIA.

KEDOEA, KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA.

KETIGA, KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA, MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA.

Kalimat tersebut merupakan hasil dari Kongres Pemuda yang diucapkan sebagai sumpah setia yang dilaksanakan pada hari Minggu, 28 Oktober 1928 bertempat di di Gedung Oost-Java Bioscoop (sekarang Gedung Keramat 106 Jakarta).

Kongres yang digagas oleh Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh indonesia. Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat. Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Lapangan Banteng. Dalam sambutannya, Soegondo berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Moehammad Jamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.

Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, sependapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.

Pada sesi berikutnya, Soenario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.

Kongres Pemuda II yang menghabiskan dana f250 atau setara gaji satu bulan pegawai Pemerintah Hindia-Belanda lulusan Stovia atau Sekolah Hakim pada waktu itu, dihadiri dari berbagai wakil organisasi pemuda yang ada pada waktu itu, seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, PPI, dll. Di antara mereka hadir pula beberapa orang pemuda Tionghoa sebagai pengamat, yaitu Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok dan Tjio Djien Kwie serta Kwee Thiam Hong sebagai seorang wakil dari Jong Sumatranen Bond.

Sumpah Pemuda Adalah Ikatan Ashobiyyah

Seperti kita ketahui bahwa manusia adalah makhluk sosial. Satu dengan yang lainnya saling membutuhkan. Agar tercipta kehidupan bersama yang harmonis, tidak memicu pertentangan dan permusuhan dibuatlah ikatan-ikatan, yang menjadi sebuah peraturan/konsensus yang harus ditaati oleh seluruh unsur masyarakat. Ikatan-ikatan tersebut bentuknya bermacam-macam, bisa berbentuk norma-norma, peraturan hukum, ideologi dan sejenisnya.

Salah satu dari berbagai macam ikatan itu adalah ikatan kesukuan. Menurut Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, ikatan kesukuan tumbuh di tengah-tengah masyarakat pada saat pemikiran manusia mulai sempit. Sebab munculnya ikatan kesukuan ini karena manusia itu, pada dasarnya memiliki naluri ingin mempertahankan diri (survive), lalu muncul pada dirinya keinginan untuk berkuasa. Keinginan ini muncul hanya pada individu yang rendah taraf pemikirannya (An-Nabhani, Nizhomul Islam). Untuk meluaskan pengaruh kekuasaannya itu, tidak jarang berhadapan dengan suku-suku lain, sehingga menimbulkan pertentangan-pertentangan lokal antar suku. Kepentingan dan pembelaan berdasarkan golongan, termasuk suku bangsa, di dalam istilah Islam dikenal dengan nama ashabiyah atau ta’ashub.

Jadi, ikatan kesukuan merupakan ikatan yang rusak. Tidak layak dijadikan pengikat antar manusia, karena memiliki beberapa aspek:

  • Ikatan ini berdasarkan pada suku/keturunan etnis tertentu, sehingga tidak dapat dijadikan pengikat dalam sebuah masyarakat yang penduduknya heterogen. Apalagi jika masyarakat itu berbentuk sebuah peradaban besar yang mencakup berbagai suku, bangsa, ras, asal geografis dan sebagainya.
  • Ikatan ini bersifat emosional, selalu didasarkan pada perasaan yang muncul secara spontan dari naluri mempertahankan diri.
  • Ikatan ini juga tidak manusiawi, karena menimbulkan pertentangan dan perselisihan antar sesama manusia, terutama dalam berebut kekuasaan.

Ikatan kesukuan hanya mengurung akal manusia dalam pemikiran yang picik dan sempit.

Ikatan inilah yang dipergunakan oleh Barat dalam memecah belah umat Islam dengan menanamkan tsaqafah ini kepada pemikiran-pemikiran kaum muslimin. Tsaqafah inilah yang dipergunakan Barat untuk menghacurkan Khilafah Islam pada tahun 1924M. Dan setelah menghancurkan Khilafah Islam, tsaqafah ini masih terus ditanamkan kepada kaum muslimin.

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Ad-Daulah Al-Islamiyah pada bab muqaddimah mengibaratkan Barat yang menanamkan tsaqafah ashabiyah yang telah dijadikan senjata untuk menghancurkan Khilafah Islam (ibu dari kaum muslimin) dan kemudian menanamkannya kepada kaum muslimin (anak cucu Khilafah Islam) dengan istilah : ”Sungguh aku telah membunuh ibu kalian yang memang patut untuk dibunuh lantaran perawatannya yang buruk terhadap kalian. Sekarang aku menjanjikan perawatan yang membuat kalian bisa merasakan kebahagiaan hidup dan kenikmatan yang nyata.” Namun sayangnya, anak cucu Khilafah (kaum muslimin) menerima uluran tangan si pembunuh, padahal senjata sang pembunuh yang terhunus masih berlumuran darah ibu mereka.

Kaum muslimin yang sudah dipecah belah oleh Barat, kemudian mengambil tsaqafah Barat dengan mengadakan kongres pemuda di Jakarta. Mereka tidak lagi bersatu dalam ukhuwah Islamiyah, namun mereka bersatu dalam ashabiyah nasionalisme. Mereka tidak lagi memikirkan saudara seimannya di wilayah lain, mereka hanya memikirkan nasib wilayahnya sendiri yaitu Indonesia.

Umat Islam lupa akan bahaya tsaqafah ini. Mereka memerangi penjajah, namun pada saat yang sama, mereka pun mengambil tsaqafah-nya. Padahal, tsaqafah itulah yang membuat mereka terjajah.

Ikatan Ukhuwah, ikatan yang shohih.

Islam tidak mengenal ikatan apapun, selain ikatan iman dan ukhuwah Islamiyah, untuk seluruh kaum Muslimin. Ikatan ini berarti hanya menjadikan akidah Islam, mabda (ideologi) Islam, sebagai satu-satunya pengikat antar kaum Muslimin. Ikatan-ikatan lainnya seperti ikatan kelompok, golongan, suku, keluarga, bangsa/nasionalisme, dan sejenisnya masuk dalam kategori ikatan-ikatan yang mempropagandakan syi’ar-syi’ar Jahiliyah.

Islam, muncul untuk merobohkan ikatan-ikatan semacam itu, membersihkannya, kemudian membangunnya dengan akidah Islam dan mabda (ideologi) Islam yang satu, pemimpin yang satu, negara yang satu, syariat (sistem hukum) yang satu.

Kecaman Islam terhadap para penganut paham sukuisme, fanatisme golongan dan sejenisnya amat keras, sampai-sampai Rasulullah saw juga bersabda:

“Bukan dari golongan kami orang-orang yang menyerukan ashabiyah, orang yang berperang karena ashabiyah, serta orang-orang yang mati karena membela ashabiyah.”
(HR. Abu Dawud)

Artinya, kaum Muslimin yang terlibat dalam fanatisme golongan/kesukuan (ashabiyah), dianggap ‘bukan dari golongan kami’, yaitu bukan termasuk kaum Muslimin. Seruannya, pembelaannya, bahkan pertarungannya membela golongan/kelompok/suku hanyalah perbuatan sia-sia dan hina!

Dalam hadits-hadits lain, kecaman Islam terhadap penganut ashabiyah lebih ’seram’, sehingga Rasulullah mencapnya seperti ‘bahan bakar api neraka’, ‘lebih rendah dari cacing tanah’, ‘lebih baik menggigit kemaluan bapaknya’. Semua itu menunjukkan perbuatan hina dan menjijikkan, dan jelas-jelas berdosa. Di depan Islam, derajat mereka lebih rendah dari binatang, malah lebih rendah dari cacing tanah!

Oleh Raden Mas Bejo [HalaqahOnline]


Read rest of entry

Dialogika BKLDK Balikpapan : "MATINYA SOEMPAH PEMOEDA"

[Pamflet_Matinya_Sumpah_Pemuda.jpg]
UNDANGAN BAGI
SELURUH MAHASISWA BALIKPAPAN
DAN MASYARAKAT UMUM

Acara Free..

Insyaallah, Ahad , 22 November 2009 , BKLDK Balikpapan mengadakan acara DIALOGIKA BKLDK dengan tema "MATINYA SUMPAH PEMUDA".

Dialogika bertempat di ruang serba guna kampus STIE Balikpapan (STIEPAN) - Kompleks perkampungan pelajar Gn. pasir.

Sebagai Pembicara :
- Drs. Takarianto (Dosen STT Migas Balikpapan)
- Agus Supriyanto (Koordinator BKLDK Balikpapan)
- Eko Purwanto (Alumni KMII 2009, Ketua LDK SKIMAPAN)

Dialogika diselenggarakan atas kerja sama BKLDK Balikpapan dan LDK SKIMAPAN (STIE Balikpapan)
Read rest of entry

Aksi Nasional Mahasiswa Banda Aceh Seruan Mahasiswa untuk Rezim Baru

ImageMahasiswa Banda Aceh pada 28 oktober 2009 tepatnya pukul 14.00 sampai dengan 15.30 WIB melaksanakan aksi konvoi kendaraan roda dua dalam sebuah Aksi Nasional Mahasiswa Seruan Mahasiswa Kepada Rezim Baru, serentak dilaksanakan di beberapa kota seluruh Indonesia. Aksi yang dimotori oleh Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus (BKLDK) diikuti oleh puluhan mahasiswa dan mahasiswi dari beberapa perguruan tinggi di Banda Aceh. Bermula dari kampus Universitas Syiah Kuala iringan kendaraan berjalan melalui jalur utama kota menuju Mesjid Raya Baiturrahman untuk melakukan orasi.

Sepanjang jalan peserta aksi juga melakukan orasi dan mengusung poster-poster menyeru rezim baru untuk meninggalkan neoliberalisme, tegakkan syariah dan khilafah. Yel-yel dari peserta aksi yang menyatakan “Demokrasi pasti mati, Neolib pasti mati, Khilafah pasti tegak kembali” juga tidak ketinggalan menambah heroik suasana di tengah sengatan matahari siang.

Pernyataan sikap aksi ini dibacakan secara resmi oleh Iwan Doumy sebagai ketua pelaksana di depan Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh yang pada intinya menawarkan kepada seluruh mahasiswa dan gerakannya untuk menjadikan ideologi Islam sebagai mainstream gerakan, sekaligus menjadikannya sebagai sistem yang ditawarkan dan disosialisasikan untuk mengelola negeri ini. Berkaitan dengan Sumpah Mahasiswa 18 Oktober 2009 yang dihasilkan dalam Kongres Mahasiswa Islam Indonesia (KMII) diikrarkan kembali oleh seluruh peserta aksi sebagai respon intelektual terhadap kerusakan yang dihasilkan oleh sistem sekuler-demokrasi yang mengatur negeri ini.





Read rest of entry

BKLDK Makassar serukan tegakkan syariah & khilafah

ImagePada hari Rabu, 28 Oktober 2009 Ratusan mahasiswa dari berbagai Universitas negeri dan swasta yang tergabung dalam Badan Koordinasi Lembaga Dakwah kampus (BKLDK) Daerah Makassar melakukan aksi damai. Mereka menyerukan kepada rezim pemerintahan baru untuk meninggalkan neoliberalisme serta menegakkan syariah dan khilafah. Aksi yang dimulai pukul 13.00 WITA, mengambil rute awal dari Masjid al Markaz Al islami menuju monumen Mandala dengan barisan yang tertib dan rapi, serta dikawal oleh beberapa aparat keamanan.

koordinator aksi, mengungkapkan bahwa sejak kemerdekaan sampai saat ini, Indonesia telah berganti-ganti rezim tetapi rakyat tetap berada dalam penderitaan. ada persoalan mendasar yang terjadi pada negeri ini sehingga problem rakyat semakin menggunung. Hal ini tidak cukup sekedar berganti rezim tetapi sistem rusak yang membawa penderitaan bagi rakyat ini pun harus pula diganti.
Disisi lain aksi ini juga merupakan rangkaian dari Kongres Mahasiswa Islam Indonesia (KMII) yang diselenggarakan di Jakarta (18/10),pekan lalu yang melahirkan Sumpah Mahasiswa.

Sumpah Mahasiswa pun kembali dibacakan dalam aksi tersebut. Berikut isi sumpah mahasiswa tersebut:

Sejak kemerdekaan hingga lebih dari enam dekade, sekulerisme mengatur Indonesia, terlepas dari siapa pun yang berkuasa. Hal yang sama juga terjadi di negeri-negeri muslim lainnya. Sistem sekuler telah menyebabkan rakyat terus menerus hidup dalam berbagai krisis yang tidak berkesudahan. Sampai saat ini fakta kemiskinan, kebodohan, kedzaliman, ketidakadilan, disintegrasi dan berbagai problem lain, termasuk penjajahan dalam segala bentuknya, senantiasa mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya. Sistem sekuler telah mengakibatkan potensi sumberdaya alam dan kekayaan mineral yang sangat melimpah tidak mampu membuat rakyat hidup dalam kebaikan. Justru sebaliknya, rakyat hidup dalam penderitaan. Semua potensi dan kekayaan alam yang dimiliki seolah tidak memberikan arti apa-apa buat hidup rakyat.

Oleh karena itu, setelah kami melihat, mencermati dan menganalisa fakta kerusakan yang ada serta merumuskan kondisi ideal, maka demi Allah, Zat yang jiwa kami berada dalam genggaman-Nya, kami mahasiswa Indonesia bersumpah :

  1. Dengan sepenuh jiwa, kami yakin bahwa sistem sekuler, baik berbentuk kapitalis-demokrasi maupun sosialis-komunis adalah sumber penderitaan rakyat dan sangat membahayakan eksistensi Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya.
  2. Dengan sepenuh jiwa, kami yakin bahwa kedaulatan sepenuhnya harus dikembalikan kepada Allah SWT – Sang Pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan - untuk menentukan masa depan Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya.
  3. Dengan sepenuh jiwa, kami akan terus berjuang tanpa lelah untuk tegaknya syari’ah Islam dalam naungan Negara Khilafah Islamiyah sebagai solusi tuntas problematika masyarakat Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya.
  4. Dengan sepenuh jiwa, kami menyatakan kepada semua pihak bahwa perjuangan yang kami lakukan adalah dengan seruan dan tantangan intelektual tanpa kekerasan.
  5. Dengan sepenuh jiwa, kami menyatakan bahwa perjuangan yang kami lakukan bukanlah sebatas tuntutan sejarah tetapi adalah konsekuensi iman yang mendalam kepada Allah SWT.

Sumpah Mahasiswa tersebut dianggap sebagai bentuk komitmen pemuda dan mahasiswa untuk berjuang keluar dari sistem sekuler menuju sistem Islam.

Di akhir aksi Adi wijaya selaku koordinator BKLDK Makassar membacakan pernyataan sikap.

Selain di Makassar Aksi ini juga berlangsung serentak di kota-kota besar di Indonesia, diantaranya Jakarta ,Surabaya Bogor, Bandung, Aceh,Samarinda, Kendari, Maluku Utara, dsb. (lipt : Nayla Syamil dan Nasrul Fikry )





Read rest of entry

BKLDK Lampung Serukan Rezim Baru Untuk Tinggalkan Neoliberalisme

Lampung-Mahasiswa yang tergabung dalam Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus (BKLDK) menggelar aksi di depan Tugu Adipura, Enggal, Kemarin. Mereka menyerukan kepada rezim baru untuk meninggalkan neoliberalisme, tegakkan syariah dan khilafah. Hal itu terkait sumpah mahasiswa Islam Indonesia pada 18 Oktober 2009 di jakarta. (lampung post, 29/10/2009)











Read rest of entry

Aksi Nasional Mahasiswa Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus (BKLDK)

PERNYATAAN SIKAP
AKSI NASIONAL MAHASISWA 28 OKTOBER 2009

SERUAN MAHASISWA KEPADA REZIM BARU :
TINGGALKAN NEOLIBERALISME, TEGAKKAN SYARIAH & KHILAFAH

Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II sebagai wujud rezim baru telah terbentuk beberapa hari yang lalu. Rezim baru ini, secara prinsip pemikirannya tidak berubah. Pos strategis bidang ekonomi tetap diisi oleh menteri-menteri yang pro liberal. Kecenderungan rezim baru ini terhadap ideologi sekuler neoliberal tetap bertahan seperti sebelumnya, bahkan semakin menguat. Agenda-agenda neoliberal seperti liberalisasi, privatisasi dan penghapusan subsidi akan terus berlanjut lima tahun ke depan. Hal ini penting untuk mengamankan kepentingan bisnis kapitalis baik dalam maupun luar negeri. Dan bagi negara imperialis, jaminan kebijakan ekonomi yang pro liberal penting untuk mempertahankan kerakusannya mengeksploitasi kekayaan alam Indonesia.

Proyek liberalisasi ekonomi Indonesia akan memasuki tahap implementasi. Sejak 10 tahun yang lalu, proyek liberalisasi ekonomi dipersiapkan. Lembaga-lembaga asing pun ikut andil dalam penyusunan kebijakan pemerintahan mulai dari UU Sumber Daya Air, UU Penanaman Modal, UU Mineral dan Batubara, UU Ketenagalistrikan dan sebagainya. Bahkan dalam rangka liberalisasi ekonomi, sekitar 200 UU sudah disiapkan untuk disahkan oleh parlemen terpilih. Tak ada yang menjamin kekayaan alam Indonesia tidak dijarah oleh asing dalam lima tahun ke depan. Bahkan bisa jadi BUMN strategis akan lenyap mengikuti privatisasi yang sudah digariskan sebelumnya. Kondisi ini semakin parah karena mayoritas menteri juga berasal dari partai politik anggota koalisi gemuk pendukung rezim ini. Plus 75 persen anggota parlemen juga berasal dari partai politik pendukung rezim baru ini. Artinya proses liberalisasi akan berjalan lancar dan legal tanpa proses kritik yang signifikan. Akhirnya rakyat semakin menderita dan negeri ini akan terus dilanda krisis tak berkesudahan.

Fakta membuktikan bahwa sejak kemerdekaan sampai saat ini, Indonesia telah berganti-ganti rezim, tetapi rakyat tetap dalam penderitaan. Rezim orde lama telah mengelola negeri ini dengan sistem sosialisme dan berujung pada penderitaan rakyat. Rezim orde baru mengelola negeri ini dengan kapitalisme dan berujung pada krisis yang semakin menjadikan Indonesia terpuruk. Orde reformasi yang diharapkan oleh banyak kalangan akan membawa kebaikan, ternyata malah semakin menjatuhkan negeri ini dalam kubangan penjajahan neoliberalisme yang semakin hari semakin menguat. Ada persoalan mendasar yang terjadi pada negeri ini sehingga problem rakyat semakin menggunung. Tidak cukup sekedar berganti rezim tetapi sistem rusak yang membawa penderitaan rakyat harus diganti.

Kondisi faktual di atas menggugah kami untuk menganalisa dan merumuskan solusi intelektual agar negeri ini segera terbebas dari penjajahan di segala bidang. Hal itulah yang mendorong kami menyelenggarakan Kongres Mahasiswa Islam Indonesia (KMII) di Jakarta pada tanggal 18 Oktober 2009. Lebih dari 5000 mahasiswa dari seluruh Indonesia telah berpartisipasi dalam kongres ini. Mereka berasal dari beragam latar belakang gerakan baik Lembaga Dakwah Kampus (LDK), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Lembaga Legislatif Mahasiswa, Unit Kegiatan Mahasiswa Intra Kampus maupun Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus. Pada event ini berhasil dirumuskan dan ditandatangani SUMPAH MAHASISWA 18 OKTOBER 2009. Sumpah Mahasiswa ini adalah komitmen intelektual kami sekaligus menjadi SERUAN dan TANTANGAN INTELEKTUAL kepada rezim manapun termasuk rezim penguasa yang baru agar jangan terus- menerus menambah penderitaan rakyat dengan mempertahankan sistem sekuler baik sosialisme maupun liberalisme. Sumpah Mahasiswa 18 Oktober 2009 juga merupakan komitmen spiritual kami karena keyakinan yang mendalam kepada Allah SWT dan ideologi Islam sebagai solusi tuntas problematika negeri ini.

Oleh karena itu, kepada rezim baru negeri ini kami sampaikan :

SERUAN MAHASISWA KEPADA REZIM BARU : TINGGALKAN NEOLIBERALISME, TEGAKKAN SYARIAH DAN KHILAFAH

Melalui lembaran ini pula kami sampaikan kepada seluruh mahasiswa dan gerakannya agar tidak terjebak sekedar mengganti rezim tetapi mulailah berpikir untuk merumuskan dan menawarkan sistem baru untuk mengelola negeri ini. Dan kami menawarkan kepada seluruh mahasiswa dan gerakannya apapun latar belakangnya untuk menjadikan ideologi Islam sebagai mainstream gerakan, sekaligus menjadikannya sebagai sistem yang ditawarkan dan disosialisasikan untuk mengelola negeri ini. Bergabunglah dalam GERAKAN SUMPAH MAHASISWA 18 OKTOBER 2009. ALLAHU AKBAR!

(Jakarta, 28 Oktober 2009)

***

SUMPAH MAHASISWA
18 OKTOBER 2009

Sejak kemerdekaan hingga lebih dari enam dekade, sekulerisme mengatur Indonesia, terlepas dari siapa pun yang berkuasa. Hal yang sama juga terjadi di negeri-negeri muslim lainnya. Sistem sekuler telah menyebabkan rakyat terus menerus hidup dalam berbagai krisis yang tidak berkesudahan. Sampai saat ini fakta kemiskinan, kebodohan, kedzaliman, ketidakadilan, disintegrasi dan berbagai problem lain, termasuk penjajahan dalam segala bentuknya, senantiasa mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya. Sistem sekuler telah mengakibatkan potensi sumberdaya alam dan kekayaan mineral yang sangat melimpah tidak mampu membuat rakyat hidup dalam kebaikan. Justru sebaliknya, rakyat hidup dalam penderitaan. Semua potensi dan kekayaan alam yang dimiliki seolah tidak memberikan arti apa-apa buat hidup rakyat.

Oleh karena itu, setelah kami melihat, mencermati dan menganalisa fakta kerusakan yang ada serta merumuskan kondisi ideal, maka demi Allah, Zat yang jiwa kami berada dalam genggaman-Nya, kami mahasiswa Indonesia bersumpah :

  1. Dengan sepenuh jiwa, kami yakin bahwa sistem sekuler, baik berbentuk kapitalis-demokrasi maupun sosialis-komunis adalah sumber penderitaan rakyat dan sangat membahayakan eksistensi Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya.
  2. Dengan sepenuh jiwa, kami yakin bahwa kedaulatan sepenuhnya harus dikembalikan kepada Allah SWT – Sang Pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan - untuk menentukan masa depan Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya.
  3. Dengan sepenuh jiwa, kami akan terus berjuang tanpa lelah untuk tegaknya syari’ah Islam dalam naungan Negara Khilafah Islamiyah sebagai solusi tuntas problematika masyarakat Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya.
  4. Dengan sepenuh jiwa, kami menyatakan kepada semua pihak bahwa perjuangan yang kami lakukan adalah dengan seruan dan tantangan intelektual tanpa kekerasan.
  5. Dengan sepenuh jiwa, kami menyatakan bahwa perjuangan yang kami lakukan bukanlah sebatas tuntutan sejarah tetapi adalah konsekuensi iman yang mendalam kepada Allah SWT.

Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!

AKSI NASIONAL MAHASISWA
BADAN KOORDINASI LEMBAGA DAKWAH KAMPUS (BKLDK)
Alamat : Jl. Sunan Giri No. 1 Rt 12/15 Rawamangun, Jakarta Timur
Telp : 021-91925306 Hp : 085710045957
Website : www.dakwahkampus.com E-mail : kmii09@yahoo.co.id
Read rest of entry

Foto Kongres Mahasiswa Islam Indonesia 2009 (KMII 2009)

Gallery - foto Kongres Mahasiswa Islam Indonesia (KMII) 2009 yang diadakan oleh Badan Koordinasi Lembada Dakwah Kampus (BKLDK) pada hari Ahad 18 Oktober 2009 di halaman Basket Hall Senayan Jakarta dengan dihadiri lebih dari 5000 Mahasiswa Nusantara dan menghasilkan komitmen bersama untuk menjadikan Indonesia yang lebih baik, tertuang dalam SUMPAH MAHASISWA 18 OKTOBER 2009. Insyaallah menjadi kongres Mahasiswa terbesar dan menoreh sejarah baru.


Sumber foto: www.dakwahkampus.com

Read rest of entry
 

NO COPYRIGHT © IN ISLAM 2009 - BADAN KOORDINASI LEMBAGA DAKWAH KAMPUS KOTA BALIKPAPAN MADINATUL IMAN - KALTIM